Rabu, 04 November 2009

Balon angan


Tentang apa yang kita tuliskan dalam angan. Pecaya atau tidak setiap diri manusia punya impian. Bagaimana kelak dia mendapatkan pekerjaan, bagaimana dia mendapatkan jodoh atau bagiamana setiap manusia bercerita tentang kesuksesan masing-masing. Mereka menyusun setiap langkah ceritanya. Memulai memunguti impian-impian dan berharap kelak penujuan terbesar dalam gengamannya. Mereka berteriak lantang bila tak ada hasil dalam usahanya, mereka tertawa lepas jika malam telah berlalu dan setiap usaha berubah menjadi hasil yang memuaskan.

Lalu apa yang kau tuliskan, tentang apa yang ingin kau jelaskan....
Bahwa aku kutub itu, dalam mimpi yang berbalik dari masyarakat. Aku belajar untuk menjadi diri sendiri, sampai tersadar bahwa waktu akan tetap berlari, bahwa kenyatan akan berjalan bersama jatuhnya gravitasi. Disini, aku berharap aku masih jadi diri sendiri. Masih bisa merasakan prinsip nikmat memilih hidup. Walau dengan cara berbeda, walau dengan langkah tak berencana Dan menjadi bagian kecil dalam raksasa jaman.

Berproses bagiku menjalani, menaklukan apa yang di depan dan berserah terhadap apa yang di usahakan. Bukan waktu tapi bagiamana persoalan sabar...


Ruang hati, 4 oktober 09

WIS (UDA)

Aku merasa ada yang hilang dalam relung mimpi kali ini. Merasa terkurangi atapun dikurangi harapan. Sedang masa lalu seakan melihatku dari balik awan dan berbisik menertawakan. Padahal jelas saja tak perlu bersembunyi semua orang akan tetap tahu. Bahwa semester besok seharusnya kita meninggalkan kota ini dengan cepat. Pergi menyusun lembar baru dan bicara banyak tentang masa depan.

Aku masih ingat hari itu, saat angka 18 mendatangi umur kita. Dimana kita dengan lantang akan menantang dunia, dimana pembodohan masal dijejalkan ke otak kita dan tanpa terpaksa kita mempercayainya. Tentang pengkerdilan perjalan anak manusia yang menganggap dunia dalam genggaman dan labilitas hati tidak menjadi persoalan. Bagiamana manusia mengukir janji dengan lantang bahwa dia menamatkan pendidikan dengan bagian paling bahagia.


Dengan prinsip saya senang, anda senang dan semuanya senang. Dengan semboyan bahwa lulus cepat adalah sebuah kebanggaan yang patut di tulis dalam lubuk manusia bodoh seperti kita. Agar mereka semua ingat bahwa kelulusan membunuh kesetiakawanan dan kemamuran merendahkan kesengsaraan.


Untung saja kini kita semakin sadar, bahwa saat kita mulai berjalan yang kita temukan pribadi baru yang entah darimana saja mereka berasal. Belum lagi bagaimana sakitnya hatimu saat melihat teman masa kecilmu bercerita tentang kelulusannya. Bagimana orang tua mereka tersenyum bahagia dengan pose bangga bahwa anaknya menjadi sarjana. Ataupu sejuata kisah pekerjaan dan asmara yang menanti dan tak semakin jelas arahnya. Belum lagi saat mereka yang lebih dulu lulus melupakanmu dan menertawakanmu dan mengganggap kamulah badut itu. Yang wajib ditertawakan.


Bagian mana yang mereka tertawakan, karena tiap manusia berbeda dan tiap manusia menyimpan rapat-rapat hatinya untuk mencapai tujuan hidup baik tanpa menyakiti maupun harus menyakiti orang lain.


Tetap bersukurlah anak terbuang................

Selasa, 08 September 2009

Mengenang yang terlupakan

Entah harus memulai darimana. Aku selalu saja benci sekolah, aku benci kehidupan, dan aku benci berada disini. Sejujurnya aku tak pernah tahu apa yang harus kuimpikan dalam jalan cita-cita. Entah itu tentang harapan, mimpi dan sebuah pendidikan. Sampai suatu sadar bahwa apa yang kujalani............


Dalam lingkungan bahagia aku melihat kita juga terlalu dekat dengan duka. Mengenai sebuah harapan manusia yang terseret rintangan, atau mengenai mimpi yang tak bisa terbang karena sayapnya dirusak orang. mereka......

Segerombolan nafas yang seharusnya tak tersedak. Segerombolan mimpi yang seharusnya tetap menopang kaki mereka dalam pijak bahagia. Program kreatifitas mahasiswa menyadarkan tentang banyak hal. Bahwa sesungguhnya kita manusia yang punya harap. Paling tidak jika kamu tidak mau berharap pada dirimu, maka berikan harapan bahagia pada mereka dengan karyamu.

Disini aku ingin sedikit mengetuk, tentang keberadaan sebuah pondok sosial. Apa itu pondok sosial, ada apa disana, kita lihat bersama.

Pondok sosial merupakan tempat makhluk yang mempunyai jalan agak berbeda dengan diri kita. Mereka anak jalanan yang terjaring razia, psk yang sudah tua, bahkan manula yang dengan tega dilupakan orang yang seharusnya merawatnya. Mereka makhluk pinggiran, tapi dalam tubunya selalu ada harap. Keluarga.....

Benar dalam kesndirian mereka tak pernah meminta lebih. Entah apa itu uang, apa itu jabatan, mobil mewah, IP bagus atau apa saja yang tentang keinginan. Mereka cuma butuh kepedulian. Tentang kita yang berlebih, yang berharap membagi kasih sayang. Paling tidak mungkin dari kita bisa menjadi sebagian kelurga untuk mereka.


mari berbagi
 

Best view with Mozilla Firefox